Wednesday, September 24, 2014

Obsesi Reinita Arlin


Obsesi Reinita Arlin
-





















Wanita cantik ini, dinobatkan sebagai Putri Pariwisata Indonesia di tahun 2012. Padahal, keikutsertaannya dalam kontes tersebut, menurut Reinita Arlin pada awalnya cuma 
iseng. Setelah meraih gelar tersebut, dia menjadi wakil Indonesia di ajang Miss Tourism World 2012 di Thailand. “Selama 3 minggu, semua peserta diajak keliling Thailand. Waktu final, aku mendapatkan Top 20 Miss Tourism WorldMiss Tourism Asia, dan Miss Personality. Itulah momen yang tidak akan pernah terlupakan,” tambahnya.
    
Bertekad menjadi Dokter. Walaupun begitu, Arlin selalu teguh pada konsistensi kariernya. Dengan segala pencapaiannya, saat ini dia tetap bertekad untuk menjadi dokter. “Sebelum ikut Putri Pariwisata, aku sudah jadi Sarjana Kedokteran. Sekarang aku melanjutkan pendidikan Dokter Muda dan bertugas ke rumahsakit-rumahsakit. Kemarin sempat bertugas di RSCM bagian forensik, bedah-bedah mayat gitu deh,” terangnya. “Bau, rasa ngeri, dan seramnya tertutup oleh rasa excited saat menemukan apa penyebab kematiannya, siapa dia. Dan, yang mengesankan, waktu aku ketemu mayat-mayat yang tenggelam. Setelah kita bisa mengidentifikasi, misalnya dengan adanya tahi lalat di bagian tubuh tertentu, aku merasa senang karena keluarganya berhasil menemukannya. Dan sebenarnya lebih senang ketemu mayat sih daripada orang. Makanya, aku cenderung untuk mengambil bedah plastik sebagai spesialisasi.”
    
Mendalami bedah plastik untuk beauty. “Dulu, aku cenderung ingin memperdalam Obstetri Ginekologi. Cuma, waktu ikut acara Putri Pariwisata dan terlibat dengan dunia modeling, aku lihat sepertinya ada kesempatan di mana beauty menjadi kebutuhan. Semua orang ingin terlihat cantik. Misalnya, ada yang ingin punya pantat seperti Jennifer Lopez. Jadi, aku melihat kesempatan bedah plastik untuk beauty masih terbuka lebar,” jelas Arlin yang mengaku memang dianggap berbakat oleh para dokter senior di bidang itu. 

Obsesi lainnya. "Ke depannya aku ingin punya satu tempat seperti one stop beauty shopping di mana bisa ada bedah plastik, dokter kecantikan, salon, dan sampai menjual produk kecantikan. Intinya, aku ingin mereka yang keluar dari tempatku itu jadi langsung merasa cantik,” ungkapnya. “Aku memang periang, tapi kadang-kadang bisa oversensitive. Aku juga perfeksionis dan go getter, tidak pernah setengah-setengah. Waktu ikut Putri Pariwisata, aku tidak asal ikutan, tapi berusaha untuk menang. Waktu ikut Miss Tourism World, aku berpikir juga harus bisa membanggakan Indonesia,“ tambahnya. 

Tentang kata ‘sexy.’ Menurut Arlin, wanita penting untuk merasa sexy. “Kalau kita merasa sexy berarti kita nyaman dengan diri kita. Mau ngapain aja secara positif pasti merasa confident. Sebaliknya, mau secantik apapun, jika kita sendiri merasa tidak nyaman dengan diri sendiri maka kita pasti jadi tidak percaya diri,” kata wanita berdarah Jawa, Makassar, dan Belanda ini. “Aku sendiri merasa sexy waktu banyak mata yang memandang. Itu juga alasan mengapa aku ikut Putri Pariwisata. Juga kalau lagi merasa nyaman. Nyaman bikin merasa sexy, sexy bikin nyaman,” kata wanita yang tertarik pada pria sixpack. “Pastinya, bukan sekadar perhatian pada penampilannya, tapi lebih pada apa yang dia lakukan untuk membentuknya. Itu bukti bahwa pria itu bertanggungjawab pada tubuhnya, kesehatannya, hingga mempertahankannya." 

Pria idaman. Harus bisa diterima dikeluarga. “Kalau aku suka tapi keluargaku tidak suka, jadinya pasti akan stop, sekalipun aku suka sekali sama dia. Bukan apa-apa, aku yakin bahwa suatu saat kita akan membenarkan apa yang dikatakan orangtua.” Dan, pria yang pintar akan selalu menarik perhatian Arlin. “Aku cenderung menyukai pendekatan yang agak misterius. Aku juga tidak bisa dengan pria yang posesif dan malas berusaha. Misalnya, kalau keluargaku tidak setuju dan dia tidak mau berusaha untuk menunjukkan nilai positifnya. Aku juga tidak suka yang tidak suportif, yang malah menghalang-halangi aku untuk maju!” Menurut Arlin, sebetulnya mudah saja jadi pria yang diinginkan wanita. Misalnya, dengan memahami pasangannya, menjadi pendengar yang baik, tempat untuk sharing, dan bisa memberi support. Dia juga harus bisa kasih sesuatu buat aku sehingga aku  bisa banyak belajar dari dia.”
    

0 comments:

Post a Comment